Analisis Regresi (Pengantar)


Analisis ini pertama kali ditemukan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1877 sehubungan dengan penelitiannya terhadap tinggi manusia, yaitu antara tinggi anak dan tinggi orang tuanya. Pada penelitiannya Galton mendapatkan bahwa tinggi anak dari orang tua yang tinggi cenderung meningkat atau menurun dari berat rata-rata populasi. Garis yang menunjukkan hubungan tersebut disebut garis regresi. (wikipedia)
Analisis regresi pada umumnya bertujuan untuk membuat sebuah pemodelan. Dari pemodelan tersebut akan dapat diketahui hubungan atau pengaruh antar variabel. Oleh karena itu, metode regresi seringkali digunakan sebagai alat untuk mengetahui hubungan antar variabel.

Metode regresi sudah mengalami banyak perkembangan, karena dalam pemodelan yang nyata selalu menuntut adanya kesalahan yang kecil. Salah satu metode yang sering digunakan sebagai pemodelan adalah metode regresi linier atau regresi linier berganda. Metode ini dianggap sebagai metode yang sederhana dan mudah diaplikasikan. Namun percobaan menggunakan metode lain (yang sudah dikembangkan seperti regresi ridge, regresi spline, regresi terboboti, dll.) bisa jadi akan memberikan hasil yang lebih baik, karena memang pada dasarnya kebutuhan akan suatu pemodelan sangat tergantung pada bentuk data yang diperoleh. Sebagai contoh sederhana, berikut ini diberikan model umum dari persamaan regresi linier Y terhadap X :
Y = a + b X (1)
Keterangan:
Y = variabel respon
X = variabel bebas
a = intersep
b = koefisien regresi/slop
model diatas (1) menggambarkan hubungan positif antara X dengan Y dimana setiap adanya satu satuan kenaikan X maka akan diikuti kenaikan Y sebesar ‘b’ (slop). Nilai Y akan sama dengan ‘a’ jika nilai X adalah nol.

Bayesian Model Averaging


Bayesian model averaging adalah metode yang dikembangkan oleh raftery dkk, dimana model ini memiliki bentuk model probabilistik. Model ini lebih dapat menangkap kasus dengan variasi data tinggi daripada peramalan deterministik. Peramalan deterministik sendiri adalah peramalan yang memberikan hasil ramalan berupa suatu titik (point). Berikut ini contoh peramalan deterministik (satu titik):
Peramalan satu titik hanya menggunakan satu model dasar saja, atau mengabaikan model lain yang sebenarnya signifikan. Padahal bisa jadi model lain dengan keakuratan yang berbeda memiliki hasil ramalan yang lebih mendekati nilai aslinya. Hal inilah yang menyebabkan peramalan deterministik kurang dapat menangkap pola data dengan variasi tinggi.
Sedangkan peramalan dengan menggunakan metode bayesian model averaging merupakan peramalan yang dapat menggabungkan beberapa model peramalan yang signifikan. Sehingga terkadang ada yang menyebutnya sebagai peramalan kombinasi atau gabungan. Sebuah data dengan variasi yang cukup tinggi akan memberikan model peramalan yang signifikan lebih dari satu. Hal ini dikarenakan pendekatan dalam memperoleh model berbeda beda. Gambar dibawah ini adalah contoh hasil peramalan bayesian yang sudah dikonversi menjadi peramalan titik.
Walaupun pada peramalan bayesian juga dapat diketahui nilai peramalan titiknya namun peramalan bayesian memiliki logika yang berbeda dengan peramalan titik. Perbedaan yang paling mencolok adalah adanya penggabungan lebih dari satu metode dalam pembentukan model bayesian selain itu peramalan bayesian melakukan pendekatan fungsi probabilitas.

Ms Access (Part 3 Query)


Query merupakan fitur Ms access yang memiliki kemampuan untuk menampilkan suatu data dari tabel-tabel yang ada di database. Tabel tersebut tidak semua ditampilkan, namun dapat diatur sesuai dengan yang kita ingin tampilkan. Sekarang akan dibuat Query dari kasus part 1.

Buat Query dengan klik tabel nilai dan tabel mahasiswa secara bersamaan (tahan CTRL) kemudian klik Query wizard.
Pilih simple query – klik next – kemudian pindahkan available field ke selected field

 
Klik next terus sampai muncul title query. Ubah nama query terserah anda. kali ini saya menggunakan nama “TABEL QUERY” untuk title query.

 
Setelah klik finish maka akan muncul tampilan dibawah ini. Kemudian pada kolom field isikan sesuai field yang akan ditampakkan. Untuk mudahnya sesuaikan dengan yang digambar.


Pada field nilai digunakan suatu fungsi “NILAI: [TES1]*0.2+[ETS]*0.3+[TES2]*0.2+[UAS]*0.3” dan untuk Huruf digunakan fungsi “HURUF:IIf([NILAI]>=81,'A',IIf([NILAI]>=71,'AB',IIf([NILAI]>=66, 'B',IIf([NILAI]>=41,'C',IIf([NILAI]>=31,'D','E')))))”.

Nantinya pada kolom nilai akan keluar suatu nilai keseluruhan dengan kriteria tes1 dan tes2 mendapat bobot 20% dan untuk ETS dan UAS mendapat bobot 30%. Sedangkan kolom huruf akan keluar huruf dengan kriteria
A = 81 – 100

AB = 71 – 80

B = 66 – 70

C = 41 – 65

D = 31 – 40

Selain itu E
 

Statistiser, all about statistics Of Galih_sp © 2011